Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 10 Mei 2019

Ideologi Pancasila Indonesia.


Ideologi Pancasila Indonesia.
Kata ideologi sendiri disebutkan oleh Antoine Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide". Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat.[1]
Secara etimologi, Ideologi berasal dari Ideas (pandangan, gagasan, ide), logos (ilmu, pengetahuan, logika) yang diserap dari bahasa Yunani. Secara  harfiah dapat diartikan bahwa ideologi adalah suatu konsep berpikir tentang suatu ide atau gagasan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian ideologi negara adalah suatu konsep ide atau gagasan untuk mencapai tujuan didirikannya suatu negara.
Ideologi bersumber dari dari perenungan yang mendalam. Zainal Muttaqin menjelaskan  bahwa  aliran filsafat akan membentuk ideologi tertentu sesuai dengan relevansi wilayah dan masanya[2].
Pertama aliran filsafat idelisme (filosofi of idealism) kemudian melahirkan ideologi Liberalisme-Kapitalisme yang mengemukakan bahwa konteks hubungan negara dengan agama adalah terpisah, walaupun di dalamnya agama memiliki peran untuk setiap individunya, sehingga pandangan hidup seorang Liberalis cenderung sekuler moderat. Konsep kapitalisme menyebabkan berkembangnya imperialisme, sehingga terjadi penindasan-penindasan kaum rendah. Dari segi ekonomi, hanya pemilik modal lah yang dapat hidup secara nyaman, karena mereka memiliki segalanya untuk dikuasai.
Kedua, aliran filsafat matrealisme (filosofi of matrealism) yang melahirkan sosialisme komunisme yang cenderung mengedepankan kolektivisme, perjuangan kelas dan revolusi. Materi (ekonomi) dianggap sebagai jalan untuk merubah sejarah. Ideologi ini juga dianggap sebagai penghambat kapitalisme. Dalam pemahaman ideologi ini kemudian menutup ruang gerak agama dalam menjalankan perannya, sebagaimana diterapkan Lenin di Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya. Namun tidak bisa diartikan secara general komunisme itu anti terhadap agama. Karena pada beberapa negara, justru menerapkan konsep sosialisme beriringan dengan konsep spiritual. Misal di Indonesia, sosialisme pada masa pergolakan revolusi fisik tumbuh subur dimana-mana untuk menentang kapitalisme barat yang dianggap menindas dan menghisap rakyat. Ajaran agama, terutama agama islam juga turut menyuburkan faham sosialsme-komunisme di Indonesia, dimana awal berdirinya dirintis oleh kalangan pemuka agama berhaluan kiri yang berada pada Sarekat Islam (SI) selanjutnya kalangan ini disebut SI merah.
Ketiga, gabungan filsafat idealisme dan matrealisme menumbuhkan ideologi fasisme yang sangat gandrung akan kesukuan, menciptakan sebuah nasionalisme yang bersifat chauvinisme, akhirnya mengakibatkan kesemana-menaan merajalela, bahkan membunuh kaum diluar golongannya dianggap perbuatan baik (seperti faham nazisme yang menganggap suku Arya merupakan tertinggi di Jerman, begitupula Jepang yang menganggap saudara tua di Asia). Namun ideologi yang bersifat terlalu ketat seperti ini tidak mampu bertahan lama, dikarenakan akan mendapatkan pertentangan secara luas bagi kaum yang dianggapnya rendah.
Terakhir, filsafat teologisme (filosofi of theologism) yang membawa paham agama yang merupakan ajaran tuhan memegang peran utama dalam kehidupan politik-kenegaraan, kemudian pemuka agama menjadi tokoh yang dikultuskan (seperti pengaruh gereja vatikan di Roma). Ada juga dari aliran filsafat ini yang menganggap bahwa ajaran tuhan sebagai sumber inspirasi, motivasi dan ekspresi dalam melaksanakan arah kebijakan. Ajaran tuhan diposisikan sebagai faktor integratif dan pencerahan (seperti negara-negara islam yang menerapkan prinsip keislaman sebagai guidens).

Aneotanggeng dalam Kaskus menuliskan bahwa macam-macam Ideologi di Dunia dan Negara Penganutnya[3].
a.          Komunisme
      Komunisme adalah paham yang mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi dan golongan, paham komunis juga menyatakan semua hal dan sesuatu yang ada di suatu negara dikuasai secara mutlak oleh negara tersebutPenganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.
        Negara yang masih menganut komunisme adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.
b.         Liberalisme
       Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.
        Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu
        Negara penganut Liberalisme yaitu: Amerika Serikat, Argentina, YUnani, Rusia, Zimbawe, Australia, Jerman, Spanyol, Swedia dll.
c.          Kapitalisme
Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Adam Smith adalah tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.
       Negara yang menganut paham kapitalisme adalah Inggris, Belada, Spanyol, Australia, Portugis, dan Perancis.
d.         Fasisme
Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara.
Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.
Negara yang menganut paham fasisme adalah Italia, Jerman .
e.          Sosialisme
       Sosialisme atau sosialis adalah paham yang bertujuan membentuk negara kemakmuran dengan usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik perseorangan. Sosialisme dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam l'Encyclopédie Nouvelle[1]. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.
       Negara yang menganut paham sosialisme adalah Kuba dan Venezuela.
f.          Anarkisme
Anarkisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.
Secara spesifik pada sektor ekonomi, politik, dan administratif, Anarki berarti koordinasi dan pengelolaan, tanpa aturan birokrasi yang didefinisikan secara luas sebagai pihak yang superior dalam wilayah ekonomi, politik dan administratif (baik pada ranah publik maupun privat).
g.         Konservatisme
       Hal atau unsur  yang terkandung di dalamnya, antara lain:
1)   inti pemikiran : memelihara kondisi yang ada, mempertahankan kestabilan, baik berupa kestabilan yang dinamis maupun kestabilan yang statis. Tidak jarang pula bahwa pola pemikiran ini dilandasi oleh kenangan manis mengenai kondisi kini dan masa lampau
2)   filsafatnya adalah bahwa perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Oleh karena itu, sebaiknya perubahan berlangsung tahap demi tahap, tanpa menggoncang struktur social politik dalam negara atau masyarakat yang bersangkutan.
3)   landasan pemikirannya adalah bahwa pada dasarnya manusia lemah dan terdapat “evil instinct and desires” dalam dirinya. oleh karena itu perlu pola-pola pengendalian melalui peraturan yang ketat
4)   system pemerintahan (boleh): demokrasi, otoriter.
h.         Marxisme,
       Dalam batas-batas tertentu bisa dipandang sebagai jembatan antara revolusi Prancis dan revolusi Proletar Rusia tahun 1917. Untuk memahami Marxisme sebagai satu ajaran filsafat dan doktrin revolusioner, serta kaitannya dengan gerakan komunisme di Uni Soviet maupun di bagian dunia lainnya, barangkali perlu mengetahui terlebih dahulu kerangka histories Marxisme itu sendiri.
       Berbicara masalah Marxisme, memang tidak bisa lepas dari nama-nama tokoh seperti Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Kedua tokoh inilah yang mulai mengembangkan akar-akar komunisme dalam pengertiannya yang sekarang ini. Transisi dari kondisi masyarakat agraris ke arah industrialisasi menjadi landasan kedua tokoh diatas dalam mengembangkan pemikirannya. Dimana eropa barat telah menjdai pusat ekonomi dunia, dan adanya kenyataan di mana Inggris Raya berhasil menciptakan model perkembangan ekonomi dan demokrasi politik.Tiga hal yang merupakan komponen dasar dari Marxisme adalah :
1. filsafat dialectical and historical materialism
2. sikap terhadap masyarakat kapitalis yang bertumpu pada teori nilai tenaga kerja dari David Ricardo (1772) dan Adam Smith (1723-1790)
3.menyangkut teori negara dan teori revolusi yang dikembangkan atas dasar konsep perjuangan kelas. Konsep ini dipandang mampu membawa masyarakat ke arah komunitas kelas.
    Dalam teori yang dikembangkannya, Marx memang meminjam metode dialektika Hegel. Menurut metode tersebut, perubahan-perubahan dalam pemikiran, sifat dan bahkan perubahan masyarakat itu sendiri berlangsung melalui tiga tahap, yaitu tesis (affirmation), antitesis (negation), dan sintesisI (unification). Dalam hubungan ini Marx cendrung mendasarkan pemikiran kepada argumentasi Hegel yang menandaskan bahwa kontradiksi dan konflik dari berbagai hal yang saling berlawanan satu sama lain sebenarnya bisa membawa pergeseran kehidupan social-politik dari tingkat yang sebelumnya ke tingkat yang lebih tinggi. Selain dari itu, suatu tingkat kemajuan akan bisa dicapai dengan jalan menghancurkan hal-hal yang lama dan sekaligus memunculkan hal-hal yang baru.
i.           Demokrasi
       Demokrasi artinya hukum untuk rakyat oleh rakyat. kata ini merupakan himpunan dari dua kata : demos yang berarti rakyat, dan kratos berarti kekuasaan. Jadi artinya kekuasaan ditangan rakyat.Sebenarnya pemikiran untuk melibatkan rakyat dalam kekuasaan sudah muncul sejak zaman dahulu. Di beberapa kota Yunani didapatkan bukti nyata yang menguatkan hal ini, seperti di Athena dan Sparta. Hal ini pernah diungkapkan Plato, bahwa sumber kepemimpinan ialah kehendak yang bersatu milik rakyat. dalam suatu kesempatan Aristoteles menjelaskan macam-macam pemerintahan, dengan berkata,“ada tiga mcam pemerintahan: kerajaan, aristokrasi, republik, atau rakyat memagang sendiri kendali urusannya.” inti pemikiran: kedaulatan ditangan rakyat
Ideologi  bangsa Indonesia memiliki karakteristik tersendiri tidak mengikuti secara murni salah satu dari ideologi yang tersebut diatas. Dalam Sila-sila Pancasila tersirat Paham sosialisme (welfarestaat) sebagaimana tercantum dalam sila kelima Pancasila, dalam Pancasila tersirat Paham demokrasi yaitu kedalautan ditangan rakyat dan perwakilan, didalam Pancasila juga tersirat paham konservatif yaitu berupa penghormatan pada kemanusiaan dan menghormati riwayat peradaban, Selintas dapat ditafsirkan bahwa ideologi Pancasila adalah gabungan dari berbagai ideologi yang berkembang di dunia, padahal sesungguhnya harus diakui bahwa Nilai-nilai Pancasila bersumber dari peradaban Bangsa Indonesia dengan dasar jauh sebelum pemerintah hindia didirikan, di Indonesia sudah mengenal keyakinan akan Tuhan, mengenal musyawarah, mengenal sistem budaya peradabapan yang menghargai arti kemanusiaan serta bangsa yang merasakan arti kesejahteraan.
Sebagai suatu ideologi dapat dipahami bahwa nilai-nilai yang termuat dalam pancasila menjadi landasan yang kuat untuk mempersatukan Indonesia dan suatu pandangan yang ideal kedepan untuk tetap mempersataukan Indonesia.
William T, Blumh guru besar political science di Chicago University,  yang dikutip oleh Indra Munawar menerangkan di dalam bukunya Modern Political : Ideologies and Attitude (Culture), mengemukakan bahwa terdapat 4 teori ideologi dari macam-macam ideologi di dunia (Siswono, 2005), diantaranya[4]:
1.      Teori Kepentingan
       Ideologi bersifat kejiwaan yang dapat dijelaskan sebagai akibat realitas dalam diri manusia
2.      Teori Kebenaran
    Blumh yang mengikuti pandangan Hannah Arendt memandang ideologi sebagai alat untuk menjalani proses kehidupan, muncul menjadi rasional dan bebas untuk mewujudkan suatu hakikat
3.      Teoi Kesulitan Sosial
   Ideologi dibuat dari hal-hal tanpa sadar atas jawaban kesulitan-kesulitan yang timbul dari masyarakat sebagai patologi yang memerlukan obat dan penyembuhan.
4.      Teori Kesulitan Kultural
      Ideologi timbul dari hal-hal yang menyangkut perasaan dan arti hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar