Pengertian Nilai (values Term)
Suatu Pendekatan Filosofis
“Nilai adalah realitas yang timbul dari relasi
antara suatu objek dengan objek lainnya”
Menurut Kluckhohn nilai adalah sebuah konsepsi dari apa yang diinginkan dan mempengaruhi seseorang dalam menentukan tindakan terhadap cara dan juga tujuan yang ingin dicapai. Selanjutnya Louis O. Kattsof (1987) memberikan pengertian nilai dibagi menjadi dua macam yaitu pertama nilai intristik yang merupakan nilai yang semulanya sudah bernilai, dan kedua adalah nilai instrumental dimana nilai merupakan hasil dari sesuatu akibat digunakan sebagai sarana dalam mencapai suatu tujuan.
Dari pengertian ahli tersebut diatas dapat menimbulkan suatu pemahaman bahwa nilai identik dan berkaitan langsung dengan kepentingan manusia.Pemahaman tersebut membatasi ruang lingkup nilai yang terbatas pada kajian axiologis.yaitu segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring) memberikan pengertian bahwa Nilai artinya Harga dan menurut KBBI artinya guna. Pengertian harga dalam hal ini tidak terbatas pada pengertian harga sebagai nilai tukar uang, namun pengertian nilai lebih ditekankan pada pengertian fungsi sebagai bagian dari suatu sistem.
Setiap unsur dalam lingkungan hidup mempunyai hubungan yang saling terkait antara suatu unsur dengan unsur lingkungan hidup lainnya. Setiap unsur dalam lingkungan hidup mempunyai fungsi masing-masing. Untuk mengetahui hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya manusia dapat melakukan pendekatan dengan kajian ontologis, kajian epistemologis dan pendekatan axiologis;
Filsafat ilmu ontologi menitik-beratkan pada kajian untuk mengindentifikasi setiap realitas metafisik menjadi realitas logis. Selanjutnya setiap realitas-realitas tersebut dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan identitas tersendiri untuk membedakannya dengan realitas lainnya.Filsafat epistemologis melakukan kajian untuk mengetahui latar belakang timbulnya realitas tersebut serta objek apa yang menyebabkan realitas tersebut terjadi. Epistemologis lebih lanjut melakukan kajian pada akibat yang dapat ditimbulkan oleh realitas tersebut. Dalam hal ini akan dilakukan kajian apakah realitas tersebut dapat menguntungkan atau merugikan terhadap lingkungan sekitarnya termasuk didalamnya akibat yang dapat timbul pada objek yang menyebabkan realitas tersebut muncul. Selanjutnya kajian epistemologi akan melakukan kajian apakah realitas tersebut dipertahankan, dihilangkan atau dilakukan pengayaan agar realitas lebih sering muncul (intens).
Kajian Filsafat aksiologi menitikberatkan pada kajian uji kemanfaatan atas pengetahuan yang didapatkan dari kajian epistemologis. Dalam hal ini aksiologi menitik-beratkan pada uji kemanfatan yaitu apakah keuntungan dan kerugian apabila pengetahuan tersebut diterapkan.
Kajian ontologis, kajian epistemologis serta kajian aksiologis adalah suatu kesatuan yang membentuk suatu sistem untuk mengidentifikasi setiap realitas. sebagai suatu sistem maka setiap kajian terikat kajian lainnya. Aksiologi mengidentifikasi realitas, epistemologis memahami realitas dan aksiologi melakukan kajian kemanfaatan (uji petik) terhadap pengetahuan yang diperoleh.
Kajian terhadap nilai diawali dari munculnya suatu realitas. Realitas tersebut diidentifikasi untuk melahirkan suatu identitas. Masing-masing realitas memiliki identitas masing-masing yang dapat digunakan untuk membedakan, mengelompokkan setiap realitas yang muncul.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses identitfikasi terhadap setiap realitas meurpakan proses penilaian yaitu proses untuk mengidentifikasi setiap realitas dan akhir dari prose penilaian adalah memberikan identitas yang khas terhdap setiap relitas. Realitas yang telah memiliki identitas ynang khas disebut dengan nilai(value).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses identitfikasi terhadap setiap realitas meurpakan proses penilaian yaitu proses untuk mengidentifikasi setiap realitas dan akhir dari prose penilaian adalah memberikan identitas yang khas terhdap setiap relitas. Realitas yang telah memiliki identitas ynang khas disebut dengan nilai(value).
Oleh karena realitas yang muncul identik dengan identitas yang diberikan pada masing-masing realitas tertentu dan akhirnya antara realitas dengan identitas yang diberikan pada realitas tidak dapat dipisahkan maka pengertian nilai diartikan sebagai identitas yang diberikan realitas, sehingga dapat diartikan disimpulkan bahwa nilai adalah identitas abstrak diberikan untuk menunjukkan realitas yang muncul dari relasi antara objek yang satu dengan objek lainnya.
Realitas yang muncul dari relasi antara suatu objek dengan objek lainnya tentulah tidak langsung dapat diidentifikasi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam suatu relasi. Jadi adakalanya suatu realitas belum teridentifikasi dengan suatu identitas tertentu. Dengan demikian meskipun suatu realitas belum memiliki suatu identitas tersendiri setiap realitas tersebut adalah nilai, namun nilai yang dimaksud belum memiliki identitas yang khas yang dapat disepakati oleh setiap manusia.
Sebagai contoh dalam pernyataan Klein adalah ketika lahir, bayi sudah memiliki fantasi kehidupan yang aktif. Fantasi ini merupakan representasi psikis dari ketidaksadaran id. Bukan berarti bahwa bayi mampu menjelaskan pemikirannya melalui kata-kata. Namun dalam ketidak-sadarannya, sejak lahir, bayi mampu membedakan baik dan buruk. Misalnya, jika perutnya penuh, maka bayi akan tenang, tidak menangis, dan dapat tidur nyenyak. Hal ini dipersepsi bayi sebagai hal yang baik. Sebaliknya, jika perutnya kosong, maka bayi akan menangis, rewel, dan tidak dapat tidur nyenyak. Hal ini dipersepsi bayi sebagai hal yang buruk. Konsep baik buruk ini sama dengan konsep baik buruk yang dikemukakan Sullivan. Sesuai perkembangan bayi, maka berkembang juga fantasi ketidaksadaran lainnya, yaitu Oedipus complex,. Contoh tersebut menujukkan bahwa bayi tersebut belum mengetahu identitas pada realitas yang dia rasakan maka realitas tersebut merupakan suatu nilai.
Dalam analisis terhadap realitas yang muncul dari relasi antara suatu
objek dengan objek lainnya, manusia tidak didudukkan sebagai subjek karena pada saat analisis manusia didudukkan sebagai objek. Penelitian realita yang muncul juga tidak terbatas pada hubungan manusia dengan manusia tapi juga menganalisis realitas yang muncul dari hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya[]
serta hubungan antara suatu benda dengan benda lainnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan unsur-unsur nilai adalah :
- realitas
- relasi
- objek
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah nilai dapat berubah?
Sebagaimana telah nilai dikaji oleh Filsafat epistemologis melakukan kajian pada upaya untuk mengetahui latar belakang timbulnya realitas tersebut serta objek apa yang menyebabkan realitas tersebut terjadi. Epistemologis lebih lanjut melakukan kajian pada akibat yang dapat ditimbulkan oleh realitas tersebut. Dalam hal ini akan dilakukan kajian apakah realitas tersebut dapat menguntungkan atau merugikan terhadap lingkungan sekitarnya termasuk didalamnya akibat yang dapat timbul pada objek yang menyebabkan realitas tersebut muncul. Selanjutnya kajian epistemologi akan melakukan kajian apakah realitas tersebut dipertahankan, dihilangkan atau dilakukan pengayaan agar realitas lebih sering muncul (intens).
Munculnya suatu realitas dari situasi tertentu akan dikaji untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menentukan apakah realitas tersebut dipertahankan, dihilangkan atau ditambahkan. apabila pihak yang melakukan penelitian menginginkan perubahan atas realitas tersebut atau ingin menerapkan realitas tersebut pada ruang, waktu dan tempat tertentu maka harus dilakukan perubahan pada bentuk relasi atau perubahan pada objek yang memunculkan realitas tersebut. Realitas yang muncul selanjutnya adalah realitas yang baru sesaui dengan realitas yang diharapkan. Perubahan tersebut melahirkan nilai yang baru. Dengan demkian yang berubah adalah realitasnya bukan nilainya karena masing-masing nilai memiliki identitasnya masing-masing yang berbeda antara satu nilai dengan nilai lainnya. Jadi yang berubah adalah realitasnya dan bukan nilainya.
Realitas yang muncul dari relasi antara suatu objek dengan objek lainnya tentulah tidak langsung dapat diidentifikasi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam suatu relasi. Jadi adakalanya suatu realitas belum teridentifikasi dengan suatu identitas tertentu. Dengan demikian meskipun suatu realitas belum memiliki suatu identitas tersendiri setiap realitas tersebut adalah nilai, namun nilai yang dimaksud belum memiliki identitas yang khas yang dapat disepakati oleh setiap manusia.
Sebagai contoh dalam pernyataan Klein adalah ketika lahir, bayi sudah memiliki fantasi kehidupan yang aktif. Fantasi ini merupakan representasi psikis dari ketidaksadaran id. Bukan berarti bahwa bayi mampu menjelaskan pemikirannya melalui kata-kata. Namun dalam ketidak-sadarannya, sejak lahir, bayi mampu membedakan baik dan buruk. Misalnya, jika perutnya penuh, maka bayi akan tenang, tidak menangis, dan dapat tidur nyenyak. Hal ini dipersepsi bayi sebagai hal yang baik. Sebaliknya, jika perutnya kosong, maka bayi akan menangis, rewel, dan tidak dapat tidur nyenyak. Hal ini dipersepsi bayi sebagai hal yang buruk. Konsep baik buruk ini sama dengan konsep baik buruk yang dikemukakan Sullivan. Sesuai perkembangan bayi, maka berkembang juga fantasi ketidaksadaran lainnya, yaitu Oedipus complex,. Contoh tersebut menujukkan bahwa bayi tersebut belum mengetahu identitas pada realitas yang dia rasakan maka realitas tersebut merupakan suatu nilai.
Dengan demikian dapat disimpulkan unsur-unsur nilai adalah :
- realitas
- relasi
- objek
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah nilai dapat berubah?
Sebagaimana telah nilai dikaji oleh Filsafat epistemologis melakukan kajian pada upaya untuk mengetahui latar belakang timbulnya realitas tersebut serta objek apa yang menyebabkan realitas tersebut terjadi. Epistemologis lebih lanjut melakukan kajian pada akibat yang dapat ditimbulkan oleh realitas tersebut. Dalam hal ini akan dilakukan kajian apakah realitas tersebut dapat menguntungkan atau merugikan terhadap lingkungan sekitarnya termasuk didalamnya akibat yang dapat timbul pada objek yang menyebabkan realitas tersebut muncul. Selanjutnya kajian epistemologi akan melakukan kajian apakah realitas tersebut dipertahankan, dihilangkan atau dilakukan pengayaan agar realitas lebih sering muncul (intens).
Munculnya suatu realitas dari situasi tertentu akan dikaji untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menentukan apakah realitas tersebut dipertahankan, dihilangkan atau ditambahkan. apabila pihak yang melakukan penelitian menginginkan perubahan atas realitas tersebut atau ingin menerapkan realitas tersebut pada ruang, waktu dan tempat tertentu maka harus dilakukan perubahan pada bentuk relasi atau perubahan pada objek yang memunculkan realitas tersebut. Realitas yang muncul selanjutnya adalah realitas yang baru sesaui dengan realitas yang diharapkan. Perubahan tersebut melahirkan nilai yang baru. Dengan demkian yang berubah adalah realitasnya bukan nilainya karena masing-masing nilai memiliki identitasnya masing-masing yang berbeda antara satu nilai dengan nilai lainnya. Jadi yang berubah adalah realitasnya dan bukan nilainya.
Apakah yang dimaksud dengan nilai? nilai adalah setiap identitas yang dapat diidentifikasi maupun yang belum teridentifikasi terhadap setiap realitas. Ciri-ciri nilai yang khas adalah bahwa setiap realitas memiliki identitas yang khas. Nilai tidak pernah berubah, yang berubah adalah realitasnya yaitu realitas yang muncul dari suatu objek atau realitas yang miuncul dari suatu objek dengan objek lainnya.
Hubungan Antara Nilai dengan Masalah
Pengertian Nilai
Menurut Para Ahli[3]
Spranger
Nilai adalah suatu
tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih
alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu.
Horrocks
Nilai adalah sesuatu
yang memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa
yang ingin dicapai atau sebagai sesuatu yang dibutuhkan.
Antony Giddens (1995)
Nilai adalah suatu
gagasan yang dimiliki seseorang maupun kelompok mengenai apa yang layak, apa
yang dikehendaki, serta apa yang baik dan buruk.
Horton & Hunt
(1987)
Nilai adalah suatu
gagasan mengenai apakah suatu tindakan itu penting ataukah tidak penting.
Richard T. Schaefer
dan Robert P. Lmm (1998)
Nilai adalah suatu
gagasan bersama-sama (kolektif) mengenai apa yang dianggap penting, baik, layak
dan diinginkan. Sekaligus mengenai yang dianggap tidak penting, tidak baik,
tidak layak dan tidak diinginkan dalam hal kebudayaan. Nilai merujuk kepada
suatu hal yang dianggap penting pada kehidupan manusia, baik itu sebagai
individu ataupun sebagai anggota masyarakat.
Nietzsche
Pengertian nilai
adalah tingkat atau derajat yang diinginkan oleh manusia.
Kluckhohn
Nilai adalah sebuah
konsepsi dari apa yang diinginkan dan mempengaruhi seseorang dalam menentukan
tindakan terhadap cara dan juga tujuan yang ingin dicapai.
Louis O. Kattsof
(1987)
Nilai dibagi menjadi
dua macam oleh Louis, dimana terdapat nilai intristik yang merupakan nilai yang
semulanya sudah bernilai, dan yang kedua adalah nilai instrumental dimana nilai
merupakan hasil dari sesuatu akibat digunakan sebagai sarana dalam mencapai
suatu tujuan.
Mulyana
Nilai adalah suatu
keyakinan dan rujukan untuk menentukan sebuah pilihan.
Gordon Allport
Nilai merupakan suatu
keyakinan yang dapat membuat seseorang melakukan tindakan berdasarkan
pilihannya.
Danandjaja
Nilai adalah sebuah
pengertian yang dimiliki seseorang akan sesuatu yang lebih penting maupun kuran
penting, apa yang lebih baik dan kuran baik, dan juga apa yang lebih benar dan
apa yang salah.
Koentjaraningrat
Nilai adalah suatu
bentuk budaya yang memiliki fungsi sebagai sebuah pedoman bagi setiap manusia
dalam masyarakat. Bentuk budaya ini dikehandaki dan bisa juga dibenci
tergantung daripada anggapan baik dan buruk dalam masyarakat.
Robert Lawang
Nilai ialah gambaran
mengenai apa yang diinginkan, berharga, pantas, dan juga dapat memengaruhi
perilaku sosial setiap individu yang memiliki nilai tersebut. Nilai ini menjadi
ceriminan serta menjadi pedoman tata tertip kehidupan masyarakat.
Karel J. Veeger
Nilai adalah suatu
kiteria yang dberikan kepada individu ke individu lain berdasarkan dengan
perbuatan yang dilakukan. Pengertian ini secara langsung juga dapat diberikan
pemahaman bahwa dipertimbangkan berdasarkan moral.
Kimball Young
Pengertian nilai
adalah asumsi abstrak dan sering kali tidak disadari apa sebenarnya yang
penting dalam masyarakat.
AW Green
Nilai adalah kesadaran
berlangsung dengan disertai emosi terhadap suatu objek.
Bambang Daroeso
Nilai adalah suatu
kualitas atau pengahargaan terhadap sesuatu, yang menjadi dasar penentu tingkah
laku seseorang.
Nursal Luth dan Dainel
Fernandez
Nilai adalah
perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan atau tidak diinginkan yang
memengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu.Nilai bukanlah
soal benar atau salah,tetapi soal dikehendaki atau tidak,disenangi atau
tidak.Nilai merupakan kumpulan sikap dan perasaan-perasaan yang selalu
diperlihatkan melalui perilaku oleh manusia.
Laboratorium Pancasila
IKIP Malang
Pengertian nilai adalah
sesuatu yang berharga, berguna, indah, yang memperkaya batin, dan menyadarkan
manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi
mendorong,mengarahkan sikap, dan perilaku manusia.
Soerjono Soekanto
Nilai adalah konsepsi
abstrak yang ada dalam diri manusia, hal ini dikerenakan nilai dapat dianggap
baik dan dapat pula dianggap sebagai jelek. Nilai baik selalu menjadi simbul
kehidupan yang dapat mendorong ontegritas sosial sedangkan nilai yang buruk
akan memberikan dampak yang berarati seperti halnya dampak yang terjadi pada
konflik.
Wood
Nilai adalah petunjuk
umum yang telah berlangsung lama, petunjuk ini bahkan dianggap mampu
mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
karenannya nilai dalam ketegori ini terbagi menjadi dua, yakni nilai baik dan
buruk.
[1] Dalam hubungan antara manusia dengan suatu tanaman,
realitas tyang muncul yang dapat diidentifikasi adalah udara yang bersih dan sejuk. Identitas bersih dan sejuk adalah nilai .
[2]
Suatu saat ada seekor ayam terikat dan disekitarnya ditaburkan jagung, apakah
reaksi yang muncul dari ayam setelah melihat jagung tersebut, realitas yang
muncul adalah contoh nilai.
[3] Dikutip dari Zona Referensi llmu Pengetahuan Umumhttps://www.zonareferensi.com/pengertian-nilai/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar